PJJ Oh PJJ, Demi Masa Depanku

Oleh: Afanin Qanit Adhanajwan (Siswi SMP YAYASAN PUPUK KALTIM kelas 9D)

“PJJ : Pembelajaran Jarak Jauh/ pembelajaran melalui sistem online”

Tulisan ini mendapatkan predikat Juara 1 katagori menulis non-fiksi dalam acara peringatan hari Bulan Bahasa dan hari pahlawan yang diadakan oleh SMP YAYASAN PUPUK KALTIM Bontang tahun 2020

PJJ Oh PJJ, Demi Masa Depanku


matematika: batas akhir 28 Oktober 2020
Fisika: batas akhir 29 Oktober 2020, jam 16.00
Biologi : batas akhir 29 Oktober 2020, jam 21.00
SBK : batas akhir  31 Oktober 2020
Bahasa Indonesia:  batas akhir 31 Oktober 2020

Tulisan di atas itu adalah catatan daftar tugas sekolah yang harus terselesaikan dalam pekan ini. Catatan itu akan saya lihat kembali dan mencentangnya bila sudah selesai dan menyetornya. Mudahan bisa cepat selesai, doa dan harapan saya. Plong rasanya hati ini bila  itu sudah saya centang semua. Saya pikir jika saya menunda-nunda menyelesaikan tugas itu, akan ada tugas lagi dan lagi, hingga akan semakin menumpuk. Jadi, apapun yang terjadi harus saya kerjakan. Mau tidak mau, suka tidak suka, sempat tidak sempat, harus selesai sesuai waktunya. Entah hasilnya seperti apa, benar atau tidak, saya pasrah. Yang penting saya sudah berusaha mengerjakan dan tetap semangat..  

Sejak pandemi Covic-19 melanda, sekolah mengadakan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Walaupun sekolah secara online, tidak lepas dengan yang namanya tugas. Tugas- tugas itu yang membuat kita belajar lebih banyak di rumah. Materi pelajaran ada yang mudah dan sulit saya pahami. Butuh perhatian lebih dan pemikiran cermat untuk mengikuti pelajaran. Bila lengah sedikit kita akan tertinggal, pesan salah satu guru saya yang selalu saya ingat.  

Dari segi penyampaian kepada siswa dan segi pengumpulan tugas, PJJ ini  berbeda dengan sekolah biasa atau offline. Berbagai aplikasi harus diinstal sehingga menghiasi HP juga laptop orang tua saya. Dari drive Google Classroom, Google Form, Google Meet, Zoom, Google Drive, Email dan selalu setia Whatsapp. Pertemuan selama PJJ ini biasanya menggunakan media Google meet atau Zoom, dengan mengikuti link yang sudah diberikan,  kemudian mengumpulkan tugas dengan aplikasi lainnya. Jadi saya pikir, jadi siswa tidak boleh gaptek alias gagap teknologi.

Selama PJJ, kegiatan belajar hampir sama seperti di sekolah.  Pukul 07.00 pagi diawali  sholat dhuha dan membaca Al-Quran  (kegiatan keaagamaan)  hingga pukul 07.30, setelah itu dilanjutkan dengan pembelajaran. Perbedaanya dengan sekolah biasa,  di sekolah berakhir pembelajaran pukul 16.00 sementara PJJ ini berakhir  pukul 11.50. Kita juga memakai seragam seperti ke sekolah. Selama pelajaran juga diselingi dengan waktu istirahat selama 20 menit. Awalnya pembelajaran ini terasa cukup  menyenangkan karena dalam kondisi santai berada di rumah, namun lama kelamaan cukup menjenuhkan. Rindu rasanya belajar di sekolah.

PJJ memang tidak semudah yang dibayangkan,  tapi harus dihadapi.  Ada beberapa kejadian yang muncul ketika  PJJ ini,  contohnya jika koneksi internet di rumah buruk otomatis akan menghambat  pembelajaran. Hal ini bisa terjadi baik  anak-anak yang  memakai Wifi ataupun  kuota .Untuk mendapatkan jaringan internet tentu diperlukan pula dana lebih. Alhamdulillah,  sekarang telah ada bantuan dari pemerintah sehingga tidak menjadi masalah lagi.  

Saat pembelajaran daring, ada beberapa peristiwa yang terjadi.   Contohnya  ketika siswa dipanggil namanya (absensi) oleh guru, ada yang tidak respon jadi akhirnya alpha  atau bolos. Contoh lain lagi, siswa ada yang  masih mengantuk bahkan tertidur sampai pembelajaran berakhir. Tentu  akan menyebabkan anak-anak tertinggal materi yang dijelaskan oleh bapak ibu guru.    Selama PJJ  ini kita juga  tidak bisa bertemu langsung dengan teman-teman, rasanya kurang seru dan   tidak  menyenangkan. Kita juga tidak bisa berinteraksi langsung dengan  Bapak/Ibu guru. Jika ada materi yang kurang dipahami, kita tidak bisa mendengarkan penjelasan langsung dari  guru.

Guru pasti ingin memberikan yang terbaik untuk siswanya. Guru sudah berusaha dengan berbagai macam cara agar siswanya memahami pelajaran.  Dari video kreatif yang di unggah di youtube hingga membuat soal  berbentuk kuis tentu sangat melelahkan. Jika menjelaskan melalui Goggle Meet  ada guru yang menjelaskannya terasa cepat sekali dan ada pula guru yang menjelaskannya berkali-kali tetapi sulit untuk dipahami. Saya pun pernah  kesulitan memahami pelajaran dan kesulitan  mencatat materi-materi yang dirasa penting.   Ya, memng berbeda dengan pembelajaran langsung di sekolah.

Menurut saya, ada  beberapa tugas  membutuhkan waktu lebih. Ada juga tugas  yang membutuhkan  berkonsentrasi lebih bahkan  begadang demi menyelesaikannya. Ada pula tugas membuat video, tugas ini yang membuat saya pusing tujuh keliling. Berkali-kali saya harus mengulangnya sampai mendapat hasil yang baik. Ketika mengerjakan ulangan juga sempat membuat saya deg-degan. Takut bila waktu yang ditentukan tiba-tiba habis, saya belum selesai mengerjakan. Belum lagi ketika ulangan tiba-tiba saya harus  ke kamar kecil.

Pernah suatu hari ketika ulangan  jaringan Wifi di rumah saya buruk, saya bingung sekali, mau minta tolong hotspot dataayah ibu tidak bisa karena mereka bekerja. Karena saya bingung,  saya menulis pesan melalui wa pada guru bidang studi . Guru saya yang  baik hati meminta saya ke rumahnya, menggunakan wifi di rumahnya. Kebetulan rumah beliau tidak jauh dari rumah saya. Alhamdulillah, sebelum ke rumah guru saya, ayah sudah mengirimkan bantuan kuota.

Pengalaman berkesan saya  selama PJJ,  saya pernah terlambat bangun.Saya sempat gugup dan takut. Jadi saya tidak sempat mandi,  hanya cuci muka, sikat gigi dan memakai baju sekolah. Tidak sempat memakai rok jadi hanya memakai celana panjang, rok sekolahnya masih terlipat rapi di samping saya duduk. Beruntung sekali pelajaran baru dimulai dan belum absensi.  Saat itu ada teman saya yang terlambat daring.  Ketika masuk ke google meet dia di tanya oleh guru pelajaran tersebut mengapa  terlambat masuk. Teman saya menjawab bahwa dirinya ketiduran. Untunglah bukan  saya yang ditanya oleh guru tersebut. Pasti malu sekali rasanya.

Ketika PJJ melalui Google Meet, biasanya saya dan teman-teman mematikan kamera. Bapak dan ibu guru sering meminta kami menyalakan kamera. Ya, saya dan teman-teman akan melakukannya. Ada perasaan malu bila terlihat di kamera. Apa saja yang terjadi di balik layar Hp atau laptop? Mungkin sama dengan teman-teman yang lain. Serunya itu di belakang layar saya bisa sambil mencomot roti atau minum segelas susu milo. Bisa juga sambil mencari posisi nyaman mendengarkan penjelasan guru, sambil tengkurap atau baring-baring. Jadi ketahuan rahasia apa saja  di balik layar PJJ.  Suatu  hari PJJ sedang berlangsung, ada teman saya yang tidak sengaja menjatuhkan HP nya dan menyentuh tombol  kamera. Tanpa disadari kameranya menyala, terlihatlah wajahnya terpampang dalam posisi tertidur. Ada teman yang melihat, kemudian mengomentari dan berteriak bahwa teman saya itu tertidur.  Jadi guru dan semua teman menertawakannya. Dia pun terbangun dan merasa malu.Ya, itulah  pernak-pernik PJJ.

Ada hikmah di balik pandemi dan PJJ yang telah kita lakukan.  Kita lebih banyak waktu di rumah bersama  keluarga. Saya jadi merasa dekat dengan anggota keluarga.  Lebih banyak ibadah, berdoa, dan merasa bersyukur atas pemberian Allah.  Tetap menjalankan kegiatan produktif  dan menjaga kesehatan. Harapan saya kedepan semoga pandemi ini cepat berlalu dan saya bisa kembali bersekolah. Insyallah saya akan tetap tanggung jawab dan semangat PJJ . Ya, semua itu tentunya demi masa depanku yang gemilang.