CERPEN : MAS KURIR

oleh: SALDAN ZIKRULLAH ZULFAHMI (Siswa SMP YPK Bontang kelas 8C)

Cerpen ini adalah juara favorit II dalam Lomba menulis bertema “GURUKU PAHLAWANKU” yang diadakan oleh PT Penerbit Erlangga Indonesia tahun 2020.

MAS KURIR

Mataku perih menahan air mata. Tenggorokkanku juga terasa penuh. Sementara bunda terus bercerita tentang kecelakaan kecil yang dialaminya, tanpa beban. Dan seakan-akan tak sakit sama sekali. Sayur dan beberapa keperluan dapur yang dibeli bunda tak karuan bentuknya. Hanya beberapa butir tomat dan jagung belanjaan bunda yang terlihat utuh.

“Bunda duduk dulu, istirahat…” ucapku pelan. Bunda menghentikan tangannya yang memilah sayur, kemudian tersenyum.

“Bunda tidak apa-apa kok, cuma lecet sedikit…” jawab beliau riang sambil
menunjukkan lecet-lecet di kaki dan tangan kirinya. Bunda kembali melanjutkan pekerjaannya. Sudut bibir bunda yang mulai berkerut itu tidak lepas dari senyum.

Aku tidak tega melihat bunda begitu. Meskipun kecelakaan tunggal, bunda tetap harus istirahat dan dipijit agar sakitnya tidak menjalar. Itu kata bunda dulu, ketika aku terjatuh dari sepeda. Seharusnya aku menemani bunda tadi. Aku anak satu-satunya, laki-laki pula. Aku merasa bersalah membayangkan bunda yang harus membawa semua belanjaan dengan tubuhnya yang ringkih dan kecil itu. Motor juga akan berat
karena sarat dengan belanjaan bunda. Biasanya aku yang antar bunda ke pasar sore, tetapi hari ini bunda memaksa berangkat pagi karena harus segera mengantar pesanan dadar jagung dan sayur kimlo pesanan bu Joko untuk pengajian sore ini. Aku terpaksa membiarkan bunda pergi sendiri karena harus sekolah online sampai pukul 12 siang.

“Bunda itu tidak apa-apa, Dimas. Yang kasihan itu justru mas kurir yang bantuin bunda tadi. Waktu motor bunda keselip, jalanan agak sepi. Untung ada mas kurir itu. Dia bantu angkat motornya terus bawa ke bengkel, bawain belanjaan bunda, terus nganter bunda pulang. Eeh… malah bunda lupa bayarnya…” kisah bunda sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Tapi untung bunda sempat minta nomor kontaknya…” lanjut bunda lagi.

“Coba kamu hubungi mas kurirnya, Dimas. Bunda mau ucapin terimakasih sama bayar jasanya…ternyata masih ada anak muda sebaik itu ya…” ujar bunda sambil menunjuk handphonenya. Aku berusaha tersenyum dan mengambil HP tombol bunda. Yah menurut bunda, beliau merasa nyaman menggunakan HP ini daripada android. Tapi menurutku, bunda hanya ingin menghiburku supaya tidak merasa bersalah menggunakan android.

“Namanya Mas Kurir…” ucap bunda sambil mencuci jagung. Aku hanya
mengangguk. Setelah beberapa saat terdengar suara penjawab otomatis. Aku termangu. Pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini.

“Bun, Dimas pakai hape sendiri ya…siapa tahu ada whatssappnya…” aku
segera mengambil android di meja dan mengetikkan nomor kontak mas kurir yang ada di HP bunda. Ternyata, kontaknya sudah ada disana dengan profil seorang bayi yang tersenyum lebar menggemaskan! Aku terkejut. Ada rasa bersalah yang lain merambati jantungku.

“Bunda, mas kurir namanya siapa?” tanyaku kemudian. Bunda terdiam, lalumenggeleng.

“Bunda tidak tanya namanya, tapi orangnya masih muda. Katanya baru nyoba jadi kurir buat nambah-nambah beli susu..gitu” jawab bunda.

Terlintas kembali perbuatan usilku dan teman-teman kemarin ketika belajar daring Bahasa Inggris. Pak Bowo yang dengan semangatnya mengajarkan penggunaan kalimat positive dan negative dalam modal verb sedangkan aku dan teman-teman nge-freeze kamera. Lucu sekali ketika itu. Pak Bowo, si guru pengganti itu kebingungan karena semua siswa tampak hadir tetapi tidak merespon pelajarannya. Kami bahkan masih menertawakan kejadian kemarin pada meeting pagi ini. Ya Allah… aku menggigit bibir menahan sesal. Tak dinyana, ketika aku dan teman-teman masih menertawakannya, guru culun itu malah sedang sibuk membantu
bunda. Aku menertawakan pahlawanku sendiri.

Kupandangi punggung bunda yang masih bergerak lincah di dapur. “Bundaku itu…tak kenal lelah, tak pernah mengeluh, semua dilakukannya untukku. Seandainya tak ada mas kurir membantu, apa yang terjadi pada wanita mulia ini. Mungkin sekarang masih mendorong motor tua itu ke bengkel atau masih di jalan sambil menjinjing belanjaan yang sudah setengah hancur itu” kupeluk bunda dari belakang sambil tersengguk perlahan. Air mataku akhirnya tumpah juga membasahi baju bunda. Beliau menghentikan pekerjaannya dan mulai sibuk mengelap mata dengan punggung tangan.

“Bunda, bisakah dadar jagung dan sup kimlo nya dilebihkan sedikit? Nanti Dimas yang antar ke rumah mas kurir…” pintaku. Bunda membalikkan badan, memandangku dengan bingung.

“Dimas tahu rumahnya mas kurir, Bun” tambahku cepat. Bunda tersenyum dan menganggukkan kepala.

“Sampaikan salam bunda sama mas kurir, ya. Terimakasih banyak” ujar bunda sambil menyerahkan rantang dan sebuah amplop, dua jam kemudian. Aku hanya mengangguk sambil memasang rantai sepeda. “Dimas…?” kening bunda berkerut.

“Baiklah bundaku sayang, nanti Dimas sampaikan salam dari bunda dan
permohonan maaf yang setulus-tulusnya pada Pak Bowo, Assalamualaykum…” pamitku sambil berlalu bersama sepeda yang mulai kekecilan. Bunda melepasku dengan pandangan heran.

“Rasa bersalah ini harus segera diselesaikan” demikian tekadku.